Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2019

Suara Hati

"Tentang akhlak dan Postinganku, Jangan terkecoh, atau tertipu." Ketika saya menulis, memposting, atau menshare kalimat baik, bukan semata-mata saya sudah berakhlak baik dan sudah sempurna. Jika postingan sosial media (socmed) dijadikan alat ukur keshalihan seseorang, maka akan mudah keshalihan itu dimanipulasi. Jika saya dalam postingan saya mengandung atau berbau dakwah, nasehat, kritik atau sebagainya, bukan juga berarti bahwa saya lebih baik dari saudara sekalian. Bahkan, mungkin saya belum bisa mengamalkan semua dari apa-apa yang saya share. Di samping semua itu, sebenarnya tertuju untuk diri saya sendiri. Jika anda setuju dengan suara dan pemikiran saya, ya angkat cangkir kopinya. Juga jika anda tidak setuju dengan saya, ya tidak apa-apa, dan jangan lupa angkat cangkir kopinya.. ☕

Bidadari Penyelamat

Bidadariku, jangan pernah berhenti menginspirasiku.  “Jika batas kopi hitam adalah ampas. Maka batasku adalah kamu, Bidadariku.” Begitu banyak wanita cantik, entah kenapa hanya dia yang membuatku tertarik. Bahkan gadis yang kusebut Budadari itu bukan hanya menarik, tapi ciptaan Tuhan sekaligus pemandangan paling indah yang pernah aku lirik. Sejak kapan? sejak hari itu, saat pertama bertemu dengannya. Bukan pandangan pertama juga sih, karena memang sepengetahuanku pandangan pertama tercipta ketika wajah lelaki dan wanita saling memandang. Dan saat itu hanya aku saja saja yang memandang secara diam-diam, dia si Bidadari anggun rupawan, ketika aku sedang seruput kopi di warkopnya orang padang. wajahnya selalu melekat di dalam benakku. Meski saat ini aku dengannya hanya sebatas teman, aku cukup bahagia. Aku masih berpegang teguh dengan prinsip yang aku ciptakan sejak lulus STM dulu. “Cinta itu suci, tidaklah pantas jika karena cinta dengan sesorang kita mengotorinya dengan status...

Memories of Rain city

Gambar
Mimpi basah di kota hujan, sedikit menyebalkan tapi menyenangkan. Beberapa hari yang lalu, tepat pada tanggal 29 desember 2018. Aku, adik lelakiku yang paling tua yang kusuka panggil dia si Tompel, sepupu lekakiku yang ku sebut si Pirang karena memang akhir-akhir ini ia sedikit alay dan rambutnya seperti warna tembaga, dan sepepuku yang paling cantik tapi si Pirang suka menyebutnya Bawel. Maka dari itu, sekarang aku juluki dia si Bawel. Pergi ke kota hujan yaitu Bogor, untuk mengikuti acara Jambore Pemuda Islam atau sebutlah pesantren kilat. Sesampainya di lokasi titik kumpul, aku bertemu banyak sekali orang yang beragam. Dari mulai asal, usia, sifat, Dan karakter. Untungnya, ada beberapa murid dari ayahku yang juga mengikuti acara ini, dan aku pun senang ternyata ada juga orang yang ku kenal. Karena aku suka bete jika harus berbaur dengan orang yang belum ku kenal. Nama mereka adalah Mad, Do Di, Will And, O Lil, Son Ma, dan La Thief. Si Mad temanku, ia salah satu murid ayahku...

Pertemuan si Mat dengan Bidadari Nada Jowo

Gambar
"Jatuh cinta, seperti terlelap di dalam lautan paling dalam, kaki pun terasa lumpuh tak bisa bergerak." Seorang bernama Mat, setiap hari bahkan ketika tidak ada kelas kuliah ia sering pergi ke warung kopi untuk mencari relexasi. Suatu ketika ia sedang ngopi dan membaca buku di warkop sebelah kampusnya. Ia melihat seorang wanita, bahkan bidadari, pikirnya. Ia memandangi bidadari itu sembari menyeruput kopinya. “Sungguh indah” katanya. Seperti berada di bukit tinggi melihat pemandangan yang teramat indah. Bahkan Ia menganggap Bidadari itu lebih indah dari pemandangan-pemandangan indah dan tempat wisata yang pernah dikunjunginya. Setelah Bidadari itu pergi dari matanya, ia pun segera bertindak untuk mencari tahu siapa namanya, dimana asalnya, dan semua tentangnya, tak peduli bagaimanapun caranya. Sejak saat itu, setiap kali ia di warung kopi, ia selalu berharap Tuhan mendatangkan lagi sosok bidadari yang lewat dekat warung kopi tempat biasa ia merenung itu. Bahkan, ...