Memories of Rain city
Mimpi basah di kota hujan, sedikit menyebalkan tapi menyenangkan.
Beberapa hari yang lalu, tepat pada tanggal 29 desember 2018. Aku, adik lelakiku yang paling tua yang kusuka panggil dia si Tompel, sepupu lekakiku yang ku sebut si Pirang karena memang akhir-akhir ini ia sedikit alay dan rambutnya seperti warna tembaga, dan sepepuku yang paling cantik tapi si Pirang suka menyebutnya Bawel. Maka dari itu, sekarang aku juluki dia si Bawel. Pergi ke kota hujan yaitu Bogor, untuk mengikuti acara Jambore Pemuda Islam atau sebutlah pesantren kilat.
Sesampainya di lokasi titik kumpul, aku bertemu banyak sekali orang yang beragam. Dari mulai asal, usia, sifat, Dan karakter. Untungnya, ada beberapa murid dari ayahku yang juga mengikuti acara ini, dan aku pun senang ternyata ada juga orang yang ku kenal. Karena aku suka bete jika harus berbaur dengan orang yang belum ku kenal. Nama mereka adalah Mad, Do Di, Will And, O Lil, Son Ma, dan La Thief.
Si Mad temanku, ia salah satu murid ayahku. Aku suka berdiskusi banyak hal sembari join kopi dengannya, dari mulai topik agama, madzhab, negara dan politik.
“Mad, kok pemuda dari kalangan kita kalo cas cis cus kebanyakan teori ya? Macam dosen mahasiwa/i yang lagi jelasin materi aja. Selain itu, sebagian suka gampang banget mengkaitkan nama Tuhan ketika bersumpah. Macam kaum monas aja.”
Mad sembari ngetik-ngetik gadgetnya sempat menjawab “ya dar, maklum lah anak jaman now.”
Aku nyengir sembari seruput kopi tertawa, “hahaha”.
Tanggal 31 desember 2018. Saat semua sudah berkumpul, berangkatlah aku, segenap panitia, dan peserta-peserta lainnya menuju lokasi bumi perkemahan bogor. Betenya aku naik mobil mercy hijau milik si Sopir yang kurang tahu jalan, akhirnya pun tersasar jauh. Yang sebagian sudah dekat dengan lokasi, tapi hanya Aku, si Sopir, dan beberapa teman saja yang harus menempuh waktu sekitar 1 jam untuk sampai di lokasi karena salah jalan.
Sampailah di lokasi, Semua sibuk mendirikan tendanya masing-masing. Aku setenda dengan teman dari si Tompel yang di antara mereka masih menginjak bangku SMP. Tapi yang menyebalkan, mereka selalu ngomong dengan bahasa daerahnya sendiri, yaitu bahasa sunda. Ketika mereka saling bercanda dan tertawa, aku pun ikut tertawa. Entah apa yang mereka tertawakan aku hanya ikut-ikutan aja. Padahal kosa kata bahasa sunda yang kutahu hanya “Naon, sia, bagong” atau “Aing teh maung”.
Setelah semua tenda sudah di dirikan, hal yang tak terlupakan bagiku adalah memasak air lalu menyeduh kopi hitam favorite. Aku memotret kopi dengan baground kemah-kemah yang sudah di dirikan serta pohon-pohon ciptaan-Nya. Tapi betenya, kartu perdana jenis apapun disana gak ada sinyal sama sekali.
Akhirnya gabisa update status, tapi sudah aku siapkan captionnya yang akan ditulis di sosial media ketika sudah di rumah nanti.
“Terima kasih 2018, atas segala kenangan-kenangan indah. Saatnya ku menulis cerita baru di tahun 2019”, kataku yang baru saja waktu itu dapet inspirasi.
Ketika sedang mengobrol dengan segenap teman-teman, Salah satu temanku ada yang berkata,
“Dar, kayanya nanti pas malam pergantian tahun ada acara jilid malam deh.” Katanya.
“Masa sih? Macam sebagian mahasiswa baru yang di ospek aja. Segala acara jilid malam.” Kataku.
Temanku melanjutkan bicaranya, “Entahlah, kita lihat aja nanti. Semoga malam ini menyenangkan dan menjadi kenangan di kota hujan yang gak akan terlupakan”.
“Amin”, kata salah satu teman yang lain.
Malam pun tiba. Selepas isya, semua berkumpul. Semua berbaris di kelompoknya masing-masing. Namun, dari banyaknya kelompok lelaki diubah lagi menjadi 3 kelompok, dan kelompok perempuan diubah lagi menjadi 2 kelompok. Aku dan teman peserta yang lainnya harus memasuki hutan dan menghamipiri pos pertama hingga pos ketiga dengan segala rintangan yang agak sedikit menyebalkan. Yang menyebalkan lagi, aku dengan rekanku dapat kelompok yang kloter akhir untuk memasuki hutan itu.
Sebagian kelompok yang lain sudah sampai di pos pertama dan akhir, aku dan kelompokku saja yang belum berangkat karena harus menunggu kelompok lain selesai dan keluar dari pos-pos itu.
Saat kelompokku berkumpul, salah satu teman dari Melayu berseru,
“Siapa yang mau megang senter dan Berjalan di swipe terdepan?”.
“Saya aja deh”, kataku.
“Oke, brarti kau jalannya paling depan ya”, Lanjutnya.
Setelah berdoa bersama untuk meminta perlindungan-Nya, berangkatlah aku dengan 18 orang kelompokku untuk memasuki hutan dan menghampiri pos-pos itu.
Jalanan yang licin, sepatuku yang baru dicuci pun mau gak mau harus basah dan kotor-kotoran. Setelah masuk ke hutan itu aku bertemu kelompok kesatu, aku terkejut lihat pakaian mereka basah semua, mereka sudah melewati pos pertama hingga pos kedua. kata salah satu orang dari kelompok itu, “Siap-siap, disana ada kolam renang, semua peserta disuruh berenang”. Kata mereka sambil menggigil badannya.
Pos pertama, adalah pos pengenalan diri. Sesampainya di pos pertama yaitu terletak di sungai bagian hutan ini yang airnya dingin sekali. Kelompokku dibagi menjadi 2, ada yang ke kiri ada juga yang ke kanan. Aku ke kanan.
“Duduk semua!”, kata salah satu Panitia yang berseru.
“Duduk di air! Bukan di batu!”, katanya.
Aku dan temanku yang di sungai kanan pun duduk di dasar air, kebetulan airnya gak begitu dalam. Tapi semua kedinginan, dan menggigil.
“Dari mana kamu!?”, si Panitia yang
bertanya kepada salah satu temanku.
Sebagian teman dengan polosnya menjawab, “Dari bandung”, “Dari purwakarta” dan sebagian saling menyebutkan kota asalnya.
“Saya gak tanya itu!”, kata si Panitia.
Temanku, si Son Ma, yang salah satu murid ayahku dengan lantang menjawab, “Kita Dari Allah!”.
Si Panitia terkejut, lalu melanjutkan pertanyaan, “Kalian sekarang dimana!?”
Temanku si Gondrong menjawab, “Di bumi Allah”.
Aku pun mulai paham maksud dari si Panitia.
“Terus, mau kemana kalian!?” tanya si Panitia dengan suaranya yang tambah keras.
Aku pun gak mau kalah dan ikut menjawab, “Kembali ke Tuhan”.
“Oke, apakah kalian semua yakin dengan jawaban kalian itu!?”, lanjut kata si Panitia.
Aku dan teman pun seraya berkata lantang bersama, “Yakin”.
Setelah selesai di pos pertama, semua kelompokku berbaris lagi untuk menuju pos kedua. Kami berjalan dengan sepatu, celana dan baju yang basah. Namanya juga abis berendem di air.
Kami berjalan menuju pos kedua. Masing-masing kelompok hanya boleh membawa 3 senter, Aku dengan senter di swipe paling depan, O Lil dengan senternya di swipe tengah, dan orang Melayu dengan senternya di swipe paling belakang.
Sampailah kami di pos kedua. Pos yang mengajarkan untuk menghargai pendapat orang lain. Atau pos koordinasi.
“Semua lihat kayu yang ada di depan kalian! Masing-masing harus naik ke kayu itu! Jangan ada yang menginjak tanah atau turun dari kayu itu!”, kata si Panitia di pos kedua.
Kami pun saling menengok satu sama lain karena kebingungan. Bayangkan, kayu yang panjangnya gak seberapa harus di naiki 18 orang. Kemudian satu persatu aku dan teman-teman naik ke atas kayu itu dengan posisi badan yang miring dan saling merangkul agar tidak terjatuh.
“Oke. Sekarang kalian urutkan. yang usianya paling muda berada di ujung kayu paling kanan, lalu yang paling tua berdiri di kayu paling kiri, tanpa sedikitpun menginjak tanah, kalian harus berpindah posisi dan urutkan dari yang paling muda hingga yang paling tua. Saya gak mau tau gimana caranya. Pokonya kalian harus saling pindah posisi!”, lagi-lagi Panitia itu membuat kami kebingungan dan saling menengok satu sama lain.
Setelah berbagai cara kami lakukan, tapi tampaknya gak berhasil juga untuk mengurutkan dari yang paling muda hingga paling tua berdiri diatas kayu yang panjangnya gak seberapa ini.
“Gimana sih kalian! Kelompok perempuan aja tadi bisa berhasil, Kalian lelaki malu tuh sama kelompok perempuan! Mending pake kerudung aja sana!”, si Panitia berseru dengan lantangnya lalu melanjutkan perkataannya, “Yaudahlah, saya sakit perut gak mau nungguin kalian lama-lama. Cepet bikin barisan kalian harus menuju ke pos ketiga”.
Tiba-tiba cuaca gak bisa diajak berkompromi. sebelum sampai di pos ketiga, hujan turun lebat sekali. Karena masih ada kelompok perempuan di pos itu, kami pun mau gak mau harus menunggu kelompok wanita selesai dan pergi dari pos itu. Aku menengok ke belakang, semua teman bertambah kedinginan, aku pun begitu. Sudah basah ditambah basah, jadilah resah. Bahkan ada satu orang di kelompokku yang muntah. Dia muntah di belakang temanku si Son Ma, kasiannya baju dan celana si Son Ma tersembur muntahannya. Dan akhirnya beberapa Panitia membawanya ke tim medis lalu dibuatkannya teh hangat.
Beberapa lama kemudian, kami pun sampai di pos ketiga. Pos yang mengajarkan arti kesatuan. Si Panitia memberikan kami sebuah permainan yang di dalam permainan ini harus akal sehat yang mengerjakan. Untungnya, si Gondrong dengan kecerdasannya mengatur semua teman di kelompokku dan segera mengakhiri permainan ini. Kami pun berhasil melewati pos ini.
“Bagus! Di saat badan sedang kedinginan,
akal kalian masih beraksi. Sekarang, kalian silahkan balik ke tenda kalian masing-masing. Ganti baju biar gak masuk angin”. Kata si Panitia berkaca mata.
Sampailah aku di tenda, semua teman setendaku sudah pada tidur semua karena aku dan mereka dapat kelompok yang berbeda. Ternyata mereka pengertian, mereka sisahkan tempat untukku tidur di pojokan. Aku pun ganti baju, membuat kopi lalu keluar tenda untuk membilas pakian-pakian kotor dan sepatuku yang berubah warna jadi coklat.
Setelah selesai membilas, aku pergi ke tendanya para murid dari ayahku untuk ngopi bareng dan berbincang-bincang dengan mereka. Merekalah si Do Di, Will And, Mad, O Lil, Son Ma, dan La Thief. Tapi dalam hal menyeruput kopi, aku lebih sering dengan Mad, Will And, dan Son Ma. Aku suka berdiskusi dengan mereka, karena memang idiologi mereka yang suka bershalawat atas Nabi saw dan Keluarganya jauh berbeda sekali dari orang yang suka mengatasnamakan Tuhan demi keburukan.
Kopi pun habis tinggal ampasnya. Aku pamit kepada mereka untuk kembali ke tenda, karena tubuhku rasanya butuh istirahat dan tidur sejenak. Tapi ngeselinnya, ketika sudah sampai di tenda kebiasaan buruk datang lagi, aku gak bisa tidur, akhirnya aku membakar lilin dan mrngambil buku novel di tas lalu membacanya. Kubuka bungkus rokok, ternyata tinggal 2 batang. Mungkin setelah rokok ini habis aku akan tidur, pikirku.
Matikan lilin, masukan buku, tak lupa baca doa tidur, tas kujadikan bantal untuk tidur. Beberapa jam aku tidur, aku terbangun karena basah. Tidak mimpi, tapi basah. Jaket, celana, dan sarung yang aku pakai basah semua. Di luar hujan lebat sekali hanya aku yang tidur di pojokan terkena air. Bahkan, tasku yang kujadikan bantal pun basah. Aku pun resah, semua isi tasku basah, termasuk buku novel yang akhir-akhir ini sering kubaca.
Ternyata, ada anak yang lebih dulu bangun ketimbang diriku. Ketika aku bangun tidur, aku melihat dia duduk dengan wajah yang bingung.
“Kamu kenapa bangun?” tanyaku.
“Aku mimpi kak”, jawabnya dengan logat sunda.
Aku lanjut bertanya, “Mimpi apa?”.
“Mimpi berenang”. Jawabnya sambil nyengir yang membuatku tertawa.
“hahaha, brarti kita sama. Kita sama-sama mimpi basah. kamu mimpi berenang lalu bangun dengan badan yang sedikit basah karena hujan. Bedanya, aku gak mimpi tapi bangun dengan tubuh yang basah semua” kataku.
Aku melanjutkan, “Yaudah yuk kita bersihin tenda, abis itu kita masak air bikin pop mie biar badan kita agak hangat”.
“Iya kak”, katanya.
Setelah tenda sudah agak bersih, satu anak ada yang bangun lagi. Karena bagian belakang tubuhku basah semua, aku pun gak bisa tidur lagi. Kuputuskan untuk mengajak mereka menunggu pagi hari. Kami bertiga memasak air dan menyeduh pop mie lalu makan bersama. Aku berbincang-bincang dan bercerita humor seraya tertawa bersamanya hingga waktu shubuh tiba.
Bersambung.[]

Komentar
Posting Komentar