Pertemuan si Mat dengan Bidadari Nada Jowo



"Jatuh cinta, seperti terlelap di dalam lautan paling dalam, kaki pun terasa lumpuh tak bisa bergerak."

Seorang bernama Mat, setiap hari bahkan ketika tidak ada kelas kuliah ia sering pergi ke warung kopi untuk mencari relexasi. Suatu ketika ia sedang ngopi dan membaca buku di warkop sebelah kampusnya. Ia melihat seorang wanita, bahkan bidadari, pikirnya. Ia memandangi bidadari itu sembari menyeruput kopinya.

“Sungguh indah” katanya.

Seperti berada di bukit tinggi melihat pemandangan yang teramat indah. Bahkan Ia menganggap Bidadari itu lebih indah dari pemandangan-pemandangan indah dan tempat wisata yang pernah dikunjunginya. Setelah Bidadari itu pergi dari matanya, ia pun segera bertindak untuk mencari tahu siapa namanya, dimana asalnya, dan semua tentangnya, tak peduli bagaimanapun caranya.

Sejak saat itu, setiap kali ia di warung kopi, ia selalu berharap Tuhan mendatangkan lagi sosok bidadari yang lewat dekat warung kopi tempat biasa ia merenung itu. Bahkan, ketIka sudah satu halaman membaca bukunya, ia terus memandangi tempat lewatnya sosok Bidadari yang kemarin itu. Tanpa pernah bosan, ia selalu menunggu.

Manusiawi, pasti pernah merasakan sakit hati. Si Mat pun pernah mengalami. Ia pernah jatuh cinta kepada teman kecilnya, yang dulu teman Sekolah Dasar nya. Ketika telah menginjak bangku SMK, Mat jatuh cinta kepada seorang wanita kembang desa. Itulah teman kecilnya, yang bermama May. Tak mudah bagi Mat, banyak sekali saingannya. Gadis itu bukan Mat saja yang mencintainya. Namun, Mat merupakan seorang yang beruntung bisa memikat hati gadis itu.

Setelah Mat mendapatkan nomer Whatsapp, akun Instagram, Dan Facebook gadis itu. Ia pun berkomunikasi hingga berhari-hari. Mat terkejut, tak disangka tenyata diam-diam gadis itu juga mencintainya. Bahkan, gadis itu lebih dulu jatuh cinta sebelum Mat mengungkapkan cinta kepadanya. Tapi Mat tidak ingin menjadikannya sebagai pacar, karena pacaran bukan gaya hidupnya. Beberapa tahun kemudian sebelum lulus SMK, Mat berpikiran untuk melamarnya sesudah lulus sekolah. Ia akan mencari kerja dan menikahinya, pikirnya.

Ketika sudah bertahun-tahun besamanya. Mat sudah terlalu yakin, bahwa dengan gadis itu lah ia akan menikah dan mengakhiri sisa hidup bersamanya. Tapi Tuhan berkehendak beda. Ternyata Nenek si gadis itu tidak menyetujui cucunya berhubungan dengan si Mat. Akhirnya, Mat pun kecewa, sakit hati, bahkan sempat depresi.  Ia tak bisa lagi berhubungan dengan kekasihnya karena Perbedaan memisahkannya. Padahal, mereka berdua saling jatuh cinta.

Seperti singa jantan yang ditaklukkan kelinci betina. Mat seorang yang bisa dibilang paling disegani di sekolahnya. Meski badan Mat kecil, tapi bertarung adalah hobinya saat masa sekolahnya. Namun berbeda dengan soal cinta, bisa dibilang kalau cinta adalah kelemahannya. ketika sakit hati, Ia pun sering menangis seorang diri di kamar mandi, kamar tidurnya, tak ada seorang pun yang melihatnya. Ia sering memandangi foto gadis itu, melihat bekas chat dengannya dulu ia menangis tersedu-sedu.

Untuk melampiaskan rasa sakit hatinya, ia sering berbuat onar di jalanan. Siapapun yang membuatnya kesal ia tak segan untuk bertarung dengannya. Namun, gadis itu rupanya membuat Mat kehilangan rasa sebuah percaya selain Ibu nya. Bahkan sulit untuk menjatuhkan hatinya lagi kepada wanita lain.

Namun Tuhan masih sayang kepada si Mat. Ketika lulus SMA, perilaku dan pemikiran Mat pun berubah, ia tampak sudah agak dewasa dan tidak peduli lagi soal mantan kekasihnya, walau sulit bagi Mat untuk melupakan rasa sakit hati nya. orang tuanya menyarankan Mat untuk kuliah di salah satu Universitas. Lalu, Mat pun menuruti kemauan orang tuanya.

Kini Mat seperti seorang sufi, yang telah patah hati terhadap kehidupan duniawi. Dan di Universitas itu lah Mat bertemu dengan sang “Bidadari Nada Jowo.”

Suatu hari Mat menghadiri acara seminar di kampusnya, ia pun kaget, Mat bertemu gadis itu. bahwa ternyata gadis itu sekampus dengannya, bahkan seangkatan dengannya. Tampaknya Mat tambah penasaran tentang gadis yang disebut Bidadari itu.

“Tuhan, aku telah menemukan obat. Obat yang lebih manjur dari semua para tabib, kali ini rasanya aku benar-benar terpesona akan keindahan-Mu yang satu ini. Akankah Kau izinkan aku mencintainya?”

Setelah beberapa hari kemudian, Mat temukan akun sosmed nya dan akhirnya ia mulai mengajak gadis itu berkomunikasi lewat akun sosial medianya. Ia tak peduli walau gadis itu cuek dan jutek, justru sifat itu lah yang membuat Mat penasaran dengan gadis itu.

“Di kampung banyak pohon cemara dan beringin, hanya gadis itu lah yang Mat ingin.”

Meski banyak wanita-wanita cantik di sekitarnya, tapi tak satupun yang membuat Mat tertarik. Hanya gadis itu lah yang membuat Ia sangat tertarik. Setelah Ia tahu tempat asal gadis itu yang berasal daru jawa tengah, Mat pun terinspirasi lalu menamai gadis itu dengan sebutan “Bidadari Nada Jowo”

Meski jatuh cinta, Mat belum ingin mengungkapkan rasa cintanya kepada Bidadaru itu. Tapi, ia suka curhat dengan tuhan. Baginya, mengungkapkan rasa cinta yang tepat hanya kepada Tuhan. "suatu saat, di waktu yang tepat, aku akan mengungkapkan cinta ini kepada bidadari itu wahai Tuhanku." kata si Mat.

Suatu hari Mat datang ke warung kopi. setelah memesan kopi, seperti biasa, kopi hitam adalah favoritenya. Ia terus melirik kopinya hingga sampai pada titik ia mendapatkan inspirasi. “jika batas kopi hitam adalah ampas, maka Bidadari Nada jowo itu adalah batasku.” Pikir si Mat.

Bersambung.[]

Komentar