“Usia yang baru, langkah yang baru”
Buka lemari kuambil kopi toraja. Rebus air, lalu keseduh kopinya. Setelah jadi kopinya, seruput demi seruput aku pun menikmatinya. Setelah berlibur cukup lama, sekarang kembali dan di asrama telah dua bulan kira-kira. Rumah di bekasi sudah seperti bukan rumah tinggalku lagi, di sana aku hanya numpang tidur, makan, dan merepotkan orang tua saja.
17 tahun lalu, sang malaikat berupa seorang Ibu melahirkanku. Hari ini, aku berusia 18 tahun tentu dengan izin-Nya. Tak ada yang lebih istimewa ketika umur bertambah, selain bersyukur pada-Nya. Dengan bertambahnya usia, aku selalu berpikir sama seperti sebelumnya. Kira-kira telah apa yang kuperbuat dan apa yang akan kuperbuat selanjutnya.
Tapi akhir-akhir ini aku sangat berbahagia. Telah kutemukan sosok bidadari penyelamat, yang sekarang aku dengannya semakin dekat. Bahkan dia bagiku bukan hanya penyelamat, tapi juga inspirator, penasehat, sekaligus penyemangat. Dan semoga sang Maha merestuiku dan dia dengan cinta-Nya yang hangat.
Imam Ali a.s. berkata, “Seorang yang beruntung adalah yang lebih baik dari sebelumnya. Dan seorang yang rugi, adalah yang lebih buruk dari sebelumnya.” Kira-kira, seperti itulah yang kuingat perkataannya. Perkataan itu selalu jitu kepadaku, entah sampai kapan aku menjadi orang yang rugi. Tapi meski begitu, menyerah tidak ada di kamus hidupku.
Kedua orang tua yang selalu menyebut namaku di dalam doanya, seluruh keluarga dan saudara dirumah yang selalu menunggu kesuksesanku, guru-guru dan sahabat bahkan teman yang selalu mensupportku, terimakasihku pada mereka semua. Dengan mengingat merekalah rasa malasku terkikis sebagaimana adanya. Karena memang, aku belajar di sini, kuliah yang mungkin selesai 4 tahun lamanya, aku dibebani harapan-harapan mereka para penyemangat ketika diri ini mengingatnya.
Rambut yang sebelumnya tebal dan acak-acakan, dan tak ingin kutu-kutu berkeliaran, aku bernazar untuk rambut ini kutipiskan. Juga karena munculnya beberapa uban, ya mungkin karena banyak pikiran atau tuntutan hafalan. Maka dari itu, ketika memasuki usia baru, rambut ini harus dicukur serta dirapihkan. Karena memang, mencukur rambut tebal ini atas permintaan sang Ibu dan Bidadari inginkan.
Tentunya tak kulupakan, segala puja dan puji syukur kepada Tuhan kupanjatkan. Atas segala nikmat, karunia, serta rahmat yang telah dilimpahkan. Sekiranya Dia tidak mengizinkan, mana mungkin usia yang baru ini aku rasakan. Dengan begitu, ini semua adalah peringatan sekaligus pelajaran, Tuhan masih memberiku kesempatan tanpa kesempitan untukku mengulang tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Ya semoga usia yang baru saja bertambah ini, hidupku lebih terarahkan sebagaimana aku punya tujuan.
Saatnya melangkah dan menulis cerita yang baru!!
Buka lemari kuambil kopi toraja. Rebus air, lalu keseduh kopinya. Setelah jadi kopinya, seruput demi seruput aku pun menikmatinya. Setelah berlibur cukup lama, sekarang kembali dan di asrama telah dua bulan kira-kira. Rumah di bekasi sudah seperti bukan rumah tinggalku lagi, di sana aku hanya numpang tidur, makan, dan merepotkan orang tua saja.
17 tahun lalu, sang malaikat berupa seorang Ibu melahirkanku. Hari ini, aku berusia 18 tahun tentu dengan izin-Nya. Tak ada yang lebih istimewa ketika umur bertambah, selain bersyukur pada-Nya. Dengan bertambahnya usia, aku selalu berpikir sama seperti sebelumnya. Kira-kira telah apa yang kuperbuat dan apa yang akan kuperbuat selanjutnya.
Tapi akhir-akhir ini aku sangat berbahagia. Telah kutemukan sosok bidadari penyelamat, yang sekarang aku dengannya semakin dekat. Bahkan dia bagiku bukan hanya penyelamat, tapi juga inspirator, penasehat, sekaligus penyemangat. Dan semoga sang Maha merestuiku dan dia dengan cinta-Nya yang hangat.
Imam Ali a.s. berkata, “Seorang yang beruntung adalah yang lebih baik dari sebelumnya. Dan seorang yang rugi, adalah yang lebih buruk dari sebelumnya.” Kira-kira, seperti itulah yang kuingat perkataannya. Perkataan itu selalu jitu kepadaku, entah sampai kapan aku menjadi orang yang rugi. Tapi meski begitu, menyerah tidak ada di kamus hidupku.
Kedua orang tua yang selalu menyebut namaku di dalam doanya, seluruh keluarga dan saudara dirumah yang selalu menunggu kesuksesanku, guru-guru dan sahabat bahkan teman yang selalu mensupportku, terimakasihku pada mereka semua. Dengan mengingat merekalah rasa malasku terkikis sebagaimana adanya. Karena memang, aku belajar di sini, kuliah yang mungkin selesai 4 tahun lamanya, aku dibebani harapan-harapan mereka para penyemangat ketika diri ini mengingatnya.
Rambut yang sebelumnya tebal dan acak-acakan, dan tak ingin kutu-kutu berkeliaran, aku bernazar untuk rambut ini kutipiskan. Juga karena munculnya beberapa uban, ya mungkin karena banyak pikiran atau tuntutan hafalan. Maka dari itu, ketika memasuki usia baru, rambut ini harus dicukur serta dirapihkan. Karena memang, mencukur rambut tebal ini atas permintaan sang Ibu dan Bidadari inginkan.
Tentunya tak kulupakan, segala puja dan puji syukur kepada Tuhan kupanjatkan. Atas segala nikmat, karunia, serta rahmat yang telah dilimpahkan. Sekiranya Dia tidak mengizinkan, mana mungkin usia yang baru ini aku rasakan. Dengan begitu, ini semua adalah peringatan sekaligus pelajaran, Tuhan masih memberiku kesempatan tanpa kesempitan untukku mengulang tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Ya semoga usia yang baru saja bertambah ini, hidupku lebih terarahkan sebagaimana aku punya tujuan.
Saatnya melangkah dan menulis cerita yang baru!!
Mantul, apalagi bagian kisah kasih dengan sih bidadari penyelamat yang terasa amat hangat, sukses selalu akhi insyaallah berkah umurnya di dunya wal akhirat
BalasHapus