Mungkin, ini Puisi

Tuhan, masih adakah maaf untukku?

Lidahku sering berucap Tauhid, tapi aku sering memberhalakan materi di sekitarku...
Bibirku mengatakan Kau ada, tapi aku sering meragukan pertolongan-Mu...
Aku tahu Kau Mahakaya, tapi aku sering membanggakan yang bukan milikku. Padahal ini semua adakah milik-Mu...
Aku mengerti Kau lah sebaik-baiknya penentu hasil, tapi aku sering memaksakan rencana yang padahal belum tentu baik untukku...
Aku tahu bahwa Kau selalu mengampuni hamba-Mu yang bertaubat, tapi terkadang airmataku bukan untuk-Mu...
Aku tahu ujian-Mu datang untuk mengikis dosa yang kusebabkan, tapi aku sering merasa Engkau menurunkan cobaan untuk menegurku...
Siapakah aku, sehingga tidak layak mendapat teguran-Mu?
Aku tahu diriku kecil, tapi aku sering tidak mampu membesarkan-Mu...
Aku tahu ini salah, tapi aku sering mengulang-ulang kesalahanku...
Tuhan, Maafkan Aku...

Komentar

  1. Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, masa mati meninggalkan? Saya pikir, masa pergi tanpa jejak. Meski perginya ditandai oleh gerak matahari, kokok ayam dan sebagainya, dan sekaligus pertanda datangnya masa yg baru, ia tak meninggalkan apa-apa. Malah ia merampas apapun yg ada pada manusia, tak pandang siapa.

    BalasHapus

Posting Komentar